Pulau Jeju
Pulau Jeju
Pulau Jeju (Jeju-do) adalah pulau terbesar di Korea dan terletak di sebelah selatan Semenanjung Korea. Pulau Jeju adalah satu-satunya provinsi berotonomi khusus Korea Selatan.
Terletak di Selat Korea, sebelah barat daya Provinsi Jeolla Selatan, yang dahulunya merupakan satu provinsi sebelum terbagi pada tahun 1946. Ibu kota Jeju adalah Kota Jeju (Jeju-si).
Pulau Jeju dijuluki Samdado, "Pulau yang Berlimpah dengan Tiga Hal" yaitu, bebatuan, wanita dan angin. Karena memiliki keindahan alam dan kebudayaan yang unik, Pulau Jeju adalah salah satu objek wisata paling terkenal di Korea. Dalam catatan sejarah, Jeju disebut dalam berbagai nama, mulai dari Doi, Dongyeongju, Juho, Tammora, Seomna, Tangna atau Tamra.
Selama berabad-abad, penduduk Pulau Jeju dijuluki sebagai yukgoyeok ("enam jenis pekerja keras") yang merujuk kepada warga yang mengerjakan berbagai pekerjaan sulit dan berat untuk hidup, seperti mencari abalon dan kerang dengan cara menyelam ke dasar laut, membangun pelabuhan, beternak, membuat kapal dan bertani. Seringkali mereka diperas demi membayar upeti kepada penguasa di ibu kota. Bencana alam seperti kekeringan dan angin topan juga sering mengakibatkan gagal panen dan kelaparan yang memakan banyak korban jiwa.
Peristiwa paling kelam dalam sejarah rakyat Jeju adalah insiden berdarah pada periode pembentukan Republik Korea pada tahun 1948 sampai periode Perang Korea (1950-1953) di mana banyak warganya dibantai karena dianggap sebagai sarang pemberontak atau pengikut komunis. Karena mengalami kehidupan yang keras oleh tekanan penguasa, warga Jeju dikenal sebagai orang-orang yang tabah dan mampu bertahan dalam situasi yang sulit. Rakyat Jeju menyatakan tentang kehidupan mereka dengan ungkapan:
"Kebahagiaan itu kecil seperti butir pasir, sementara kesedihan itu sebesar batu karang''
Objek wisata di pulau Jeju
1. Gunung hallah
Di gunung ini terdapat Gwaneumsa, kuil Buddhis tertua di pulau ini. Kuil ini pertama kali dibangun pada masa Dinasti Goryeo.
Seperti pada banyak kuil di Korea, Gwaneumsa dimusnahkan dan dibangun kembali pada abad ke-20. Di luar kuil ini ada sebuah monumen yang memperingati para korban pemberontakan di Jeju yang terjadi antara tahun 1948 dan 1950.
Kawasan Gunung Halla terbagi atas beberapa iklim yang berbeda. Puncak gunung mempertahankan iklim dingin, bagian tengah beriklim sedang dan dataran dekat pesisir beriklim subtropis. Hasilnya, puncak Halla diselimuti salju dalam iklim yang keseluruhan bisa dianggap subtropis. Danau di puncak gunung dinamakan Baengnokdam yang bermakna "kolam yang dihuni oleh rusa putih". Pada masa lalu gunung ini memang dihuni rusa, tetapi kini telah punah. Jenis mamalia yang masih tersisa adalah roebuck.
2. Halla Arboretum
"Halla Arboretum" didirikan untuk studi dan pelestarian lingkungan alam. Di dalam kebun terdapat 506 jenis pohon dan 90 jenis tumbuhan, dan di dalam greenhouse terdapat Balai Tumbuhan Subtropis (105 jenis) dan Balai Tumbuhan Asli (103 jenis) dengan total 208 jenis tumbuhan.
Ada 2.722 tunggul tumbuhan langka dan langka seperti Michelia Compressa dan Euchresta Japonica, serta Chloranthus Glaber yang hanya tumbuh di Cheonjiyeon. Di Halla Arboretum, Anda dapat bertemu dengan hutan bunga empat musim, hutan warna-warni, dan musim alam yang indah di Halla.
3. Cheonjiyeon
Cheonjiyeon is salah satu air terjun tercantik yang ada di Pulau Jeju, karena keindahannya air terjun 22 meter ini dinamai Cheonjiyeon yang berarti 'tanah surga'. Cheonjiyeon merupakan salah satu objek wisata di Pulau Jeju yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan.
Menurut situs Life In Korea, air terjun ini bersumber dari sungai musim semi, jadi alirannya tergantung pada debit air sungai yang mengalir. Saat musim dingin kadang air terjun tidak mengalir. Tetapi saat semi atau musim panas biasanya air sungai mengalir membentuk beberapa air terjun musim sekaligus. Curahan air terjun ditampung sebuah kolam artifisial yang alirannya diatur oleh dua buah dam.
Kolam yang memiliki air jernih kebiruan ini sekaligus menjadi habitat bagi ikan-ikan koi dan anguila marmorata, sejenis belut tropis yang warnanya dengan marmer. Belut ini di Korea disebut dengan nama mutae.
4. Kampung Seongeup
Merupakan Kampung traditional asli penduduk Pulau jeju yang masih terlihat asli dan masih mempertahankan gaya hidup rakyat pulau Jeju.
Terletak di kaki Gunung Halla di Pulau Jeju, Desa Rakyat Seongeup adalah kota kecil yang menyimpan banyak sekali budaya dalam kurun waktu yang luas dari tahun 1410 hingga 1914. Properti budaya di desa rakyat telah diturunkan dari generasi ke generasi. dan termasuk harta karun seperti rumah tempat tinggal, kuil dan sekolah Konfusianisme, kantor pemerintahan kuno, patung batu, batu kincir besar (ditarik oleh kuda atau lembu), reruntuhan benteng, dan monumen batu. Di antara permata budaya desa rakyat adalah aset budaya tak berwujud seperti drama rakyat, makanan asli, kerajinan rakyat lokal, dan dialek lokal. Bahkan pepohonan merupakan bagian penting dari warisan daerah itu. Beberapa pohon zelkova dan jelatang yang berusia ratusan tahun berdiri di tengah desa, menjaga suasana jaman dulu yang bermartabat.
Desa Rakyat Seongeup menunjukkan budaya unik Pulau Jeju. Tongsi lokal (toilet tradisional Jeju) adalah ciri khas budaya rakyat Jeju yang sangat terkenal.
5. Batu Oedolgae
Batu Oedolgae terletak tidak jauh dari tepi pantai Sammaebong, Seogwipo. Ini adalah batu yang menakjubkan dengan keliling 10 meter dan 20 meter x_height dan juga dikenal sebagai Batu Janggunseok. Dikelilingi oleh pulau-pulau indah seperti Pulau Bum, Pulau Sae dan Seonnyu (peri) Rock.
Oedolgae juga merupakan lokasi syuting dalam serial drama TV tahun 2003, "Daejangguem" di mana Hansangoong (Yang Mi-Kyung) menghadapi kematiannya di bawah tuduhan palsu saat dibawa ke punggung Daejanggeum (Lee Young-Ae). Bebatuan Oedolgae yang fantastis dan padang alang-alang di peternakan yang luas memberikan latar belakang yang sempurna untuk trekking. Matahari terbenam di Pulau Bum, yang dapat dilihat dari Batu Oedolgae, telah lama menjadi perhentian penting bagi wisatawan yang pergi ke Pulau Jeju-do.
Legenda mengatakan bahwa jika Anda merentangkan tangan ke langit pada malam hari, Canopus (bintang paling terang kedua) hampir dapat dijangkau. Tempat ini dianggap sebagai salah satu tempat awet muda, karena Canopus dikaitkan dengan umur. Pengunjung dapat berolahraga dan menikmati berjalan-jalan di taman pada siang dan malam hari.







Komentar
Posting Komentar